REFERENSI PENDIDIKAN

PENGEMBANGAN KREATIVITAS GURU DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/05/pengembangan-kreativitas-guru-dalam.html

1. Pendahuluan

Untuk membedakan istilah kreatif dan kreativitas, perhatikan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: “Apakah kita semua kreatif?”, “Bagaimana kita mengetahui kreativitas dan kapan kita melihatnya?”, “Apakah sudah dilakukan dengan pendidikan?” Kata kreatif sering digunakan di sekolah. Sebenarnya, kita semua, sebagai guru atau siswa memiliki pengalaman dengan “menulis kreatif.” Guru bercerita dengan penuh perhatian dan menyenangkan tanpa membuat pertanyaan mendasar: “Apa kreativitas?” “Dari mana datangnya? Apakah pengalaman atau keadaan sekitar membolehkan individu menjadi lebih kreatif? Sementara seperangkat aktivitas dapat bermanfaat, tanpa informasi pada isu-isu yang lebih mendasar ini, sulit bagi setiap guru untuk mengambil keputusan pada praktik kelas yang dapat memungkinkan atau tidak memungkinkan kreativitas siswa.

Ada banyak definisi kreativitas (misalnya; lihat Sternberg, 1988). Beberapa definisi fokus pada karakteristik individu yang bekerja ditentukan dengan kreatif (Apakah seseorang kreatif?), sedangkan yang lain bekerja sendiri (Apa yang membuat kreatif ini?). Dalam salah satu kasus, sebagian besar definisi memiliki dua kriteria utama untuk mempertimbangkan kreativitas: (1) yang baru (novelty), dan (2) kelayakan (appropriateness) (Starko, 1995 : 5). Misalnya, Perkins (1988) menyatakan kreativitas sebagai berikut: (1) suatu hasil kreatif adalah suatu hasil yang baru dan layak; (2) seseorang kreatif—seseorang dengan kreativitas—adalah seseorang yang hamper secara rutin menghasilkan hasil kreatif (Perkins, 1988 : 311). Sedangkan proposisi Perkins luas, yang mengaitkan bersama-sama konsep orang kreatif dan aktivitas kreatif dalam suatu paket rapi praktis. Meskipun demikian, masing-masing aspek dari definisi ini memiliki pertanyaan.

Dengan demikian ada dua aspek kreativitas: (1) yang baru atau orginalitas (novelty or originality), dan (2) ketepatan (appropriateness) (Starko, 1995 : 5). Pertama, yang baru atau orginalitas (novelty or originality); dapat merupakan karakteristik dengan serta-merta sangat berkaitan dengan kreativitas. Untuk kreatif, suatu idea atau produk (hasil) harus yang baru (novelty). Dilemma kunci di sini adalah yang baru untuk siapa? Sehingga untuk mengembangkan kreativitas di kelas, definisi berikut nampaknya sangat layak untuk tujuan tersebut: “Untuk dipertimbangkan kreatif, suatu produk (hasil) atau idea-idea harus asli atau yang baru bagi kreator individu tersebut.” Kedua, ketepatan (appropriateness). Salah satu faktor utama dalam menentukan ketepatan adalah konteks kultur di mana kreativitas didasarkan. Sebagaimana inteligensi ditelaah secara berbeda dalam berbagai kultur (Sternberg, 1990), sehingga wahana dan fokus berbagai kreativitas dari kultur dan lintas waktu. Idea-idea kreatif adalah yang baru dan ketepatan. Identifikasi suatu masalah untuk diselesaikan daripada menyelesaikan suatu masalah preset disebut temuan masalah (problem finding).

2. Belajar dan Kreativitas

Meningkatkan konsensus antara peneliti dan theorist mengusulkan bahwa “belajar” adalah suatu proses berorientasi-tujuan (lihat, Jones, Palincsar, Ogle, & Carr, 1987; Resnick & Klopfer, 1989; dalam Starko, 1995 : 13). Belajar sebagai suatu proses konstruktif yang mengakibatkan pelajar mengonstruk pengetahuan mereka sendiri sebagai seorang kontraktor membangun suatu rumah, bukan sebagai suatu bunga karang yang menampung air atau sebuah bola billiard melambung meninggalkan meja. Proses yang berkaitan dengan visi belajar ini adalah: (1) mengorganisasikan informasi; (2) mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya; dan (3) menggunakan strategi metakognitif (berpikir tentang berpikir) untuk merencanakan menyelesaikan tujuan (lihat; Bransford, Sherwood, Vye & Rieser, 1986; Carey, 1986; Resnick, 1984; Shoenfeld, 1985; dalam Starko, 1995 : 13).

Belajar dalam mengejar suatu tujuan membuat belajar dengan maksud tertentu. Menghubungkan informasi dengan pengetahuan sebelumnya, mengerti, dan pengaruh yang membuatnya bermakna. Karena hubungan yang dikembangkan oleh masing-masing siswa unik harus asli (yang baru); dan harus belajar berorientasi-tujuan, dengan definisi adalah tepat (jika ia mencapai tujuan), proses belajar mereka sendiri dapat ditelaah sebagai kreatif. Masing-masing pelajar membangun suatu struktur kognitif individu dibedakan dari yang lainnya dan lengkap asosiasi personal unik. “Belajar bermakna … secara esensial adalah kreatif.” Semua siswa harus, dengan demikian, memberikan ijin untuk melebihi pengetahuan gurunya” (Caine & Caine, 1991 : 92; dalam Starko, 1995 : 13). Proses membangun struktur kognitif terutama semua belajar. Pengembangan keahlian dalam suatu bidang dapat dilihat sebagai mengembangkan ruang atau hubungan dalam struktur kognitif ke dalam mana informasi baru dapat tepat.

Memberikan siswa kesempatan untuk kreatif perlu membiarkan mereka untuk menentukan dan menyelesaikan masalah dan mengorganisasikan idea-idea dalam cara baru dan tepat adalah suatu kreativitas. Belajar mengambil tempat terbaik apabila pelajar terlibat dalam setting dan pertemuan dan menghubungkan informasi dengan pengalaman mereka sendiri dalam cara unik adalah suatu kreativitas. Contoh lain, misalnya; menyelesaikan masalah, menghubungkan informasi dengan idea-idea personal dan asli; dan mengomunikasikan hasil semua bantuan belajar siwa.

3. Mengajar untuk Kreativitas dan Mengajar Kreatif

Membuat struktur mengajar untuk kreativitas dapat merupakan suatu tujuan mulus. Suatu aktivitas mengajar yang menghasilkan suatu hasil yang menyenangkan, atau tepat kreatif, hasil itu tidak perlu mempertinggi kreativitas kalau siswa memiliki kesempatan untuk berpikir kreatif. Aktivitas parasut dapat dipandang “mengajar kreatif” karena guru dapat dipandang melatih kreativitas dalam mengembangankan dan menyajikan latihan tersebut. Mengajar kreatif (guru kreatif) tidak sama seperti mengajar untuk mengembangkan kreativitas.

Perbedaan ini menjadi jelas apabila anda menguji buku yang disebut “aktivitas kreatif.” Di beberapa kelas ilustrasi kreativitas adalah menarik dan luar biasa, tetapi input dari siswa agak rutin.

Download Artikel Lengkap : Klik Disini
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved