Pengertian Identitas Diri

Menurut Erikson (dalam Berk, 2007) identitas merupakan pencapaian besar dari kepribadian remaja dan merupakan suatu tahap yang penting agar individu dapat menjadi orang dewasa yang produktif dan bahagia. Identitas diri pada individu akan melibatkan penjelasan mengenai siapa diri individu, apa yang menjadi nilai individu, dan hal-hal yang dipilih individu tersebut untuk menjalani hidup. Identitas diri merupakan suatu konsep mengenai diri, pembuatan suatu tujuan, nilai, dan kepercayaan dimana untuk hal-hal tersebut individu memiliki komitmen.


Marcia (dalam Moshman, 2005) menyatakan bahwa identitas diri adalah suatu hal yang dimiliki secara kuat oleh individu, adanya kesadaran akan diri, dan pilihan-pilihan diri akan komitmen yang dimiliki terhadap pekerjaan, seksualitas, serta idiologi agama, dan politik. Identitas diri merupakan penggabungan dari keterampilan dan kepercayaan pada masa kanak-kanak, yang mengalami pengidentifikasian sehingga membuat keterampilan dan kepercayaan tersebut menjadi lebih jelas atau pada akhirnya tidak lagi digunakan, merupakan hal yang unik, serta merupakan hal yang membuat individu merasa memiliki kelanjutan dari masa lalunya dan memiliki pandangan untuk mencapai masa depannya.


Sementara itu Blasi dan Glodis (dalam Moshman, 2005) menyatakan identitas diri merupakan jawaban dari pertanyaan, “Siapakah saya?” yang terdiri dari pencapaian suatu kesatuan antara elemen-elemen masa lalu individu dan harapan di masa yang akan datang, yang menjadi dasar adanya perasaan berkesinambungan pada diri individu. Identitas diri terbentuk melalui penilaian individu terhadap dirinya yang didasarkan pada pertimbangan budaya, idiologi, dan harapan masyarakat serta adanya penilaian diri yang didasarkan pada persepsi orang lain.


Santrock (2007) menyatakan bahwa identitas diri merupakan identitas yang diawali pada masa kanak-kanak yang kemudian berlanjut di usia remaja yang ditandai dengan pertanyaan yang sering muncul, yaitu “Siapakah saya?”. Identitas di masa remaja banyak ditandai dengan upaya mencari keseimbangan antara kebutuhan untuk mandiri dan juga kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain. Hal yang paling sederhana yang dapat dilihat sebagai bentuk dari identitas diri adalah adanya komitmen individu dalam area tertentu seperti vokasional, sikap idiologis, dan orientasi seksual.

Pengertian lain mengenai identitas dikemukakan oleh Waterman (dalam Lefrancois, 1993) yang menyatakan identitas sebagai kemampuan individu untuk menggambarkan secara jelas mengenai dirinya yang mencakup gambaran mengenai tujuan, nilai, dan kepercayaan, dimana individu tersebut memiliki komitmen yang jelas. Komitmen tersebut berkembang sepanjang waktu dan dibuat karena adanya pandangan bahwa pemilihan tujuan, nilai, dan kepercayaan, merupakan hal-hal yang dapat memberikan petunjuk, manfaat, dan makna dalam hidup.

Berdasarkan beberapa pengertian identitas diri yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa identitas diri adalah penghayatan yang berasal dari apa yang dipikirkan oleh individu mengenai siapa dirinya, adanya penentuan terhadap arah dan tujuan hidup, serta individu memiliki nilainilai yang diyakini, yang dapat dilihat berdasarkan komitmen yang dimiliki terhadap pekerjaan, seksualitas, dan idiologi; yang terbentuk dari pemikiran individu mengenai siapa dirinya dan harapan masyarakat terhadap dirinya.

Refrensi :

Berk, Laura E. (2007). Development Through The Lifespan. United State of America: Pearson Education.