REFERENSI PENDIDIKAN

Proses Pembentukan Identitas Diri

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/05/proses-pembentukan-identitas-diri.html

Erikson (dalam Berk, 2007) menyatakan bahwa dalam tahap psikososial yang dialami oleh remaja, yaitu identity versus role confusion, remaja akan mengalami kondisi yang disebut sebagai krisis identitas, yaitu suatu periode dimana remaja mengalami masa-masa yang sulit ketika mencoba alternatif yang ada pada domain identitas sebelum remaja memutuskan untuk membuat nilai dan tujuan dalam hidupnya. Remaja melalui proses pencarian dari dalam diri, melakukan pencarian melalui karakteristik-karakteristik yang menggambarkan diri yang dimiliki saat remaja berada dimasa kanak-kanak dan mengkombinasikan hal tersebut dengan kapasitas dan komitmen yang dimiliki oleh remaja. Remaja akan menjadikan hal ini menjadi bagian inti dari dalam diri yang kemudian akan menghasilkan kematangan identitas diri.

Pembentukan identitas diri dapat digambarkan melalui status identitas berdasarkan ada atau tidaknya eksplorasi dan komitmen (Marcia, 1993). Eksplorasi adalah suatu periode dimana remaja akan secara aktif bertanya, mengidentifikasi, mencari tahu, menggali, dan menyelidiki berbagai alternatif yang ada untuk mencapai suatu keputusan mengenai tujuan-tujuan, nilai-nilai, dan keyakinan yang akan diambil. Remaja akan melakukan eksplorasi dengan mempertanyakan kembali, mengkaji dan mendalami berbagai domain dari
identitas diri. Sementara komitmen adalah kesetiaan, keteguhan pendirian, prinsip, dan tekad yang dimiliki untuk melakukan berbagai kemungkinan atau alternatif yang dipilih. Remaja yang memiliki komitmen akan menetapkan pilihannya, mempertahankan prinsipnya, kukuh dalam pendirian dan tidak bergeming terhadap hal-hal yang dapat membuat pendiriannya berubah.


Munculnya krisis dan komitmen pada domain identitas dalam diri individu akan semakin kuat ketika individu berada di remaja akhir (Marcia, 1993). Hal ini sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam teori perkembangan mengenai pembentukan identitas diri bahwa masa remaja awal dilihat sebagai masa perubahan dimana pemikiran-pemikiran, kondisi psikoseksual, dan pemenuhan fisiologis yang dimiliki individu sebelum memasuki usia remaja mengalami perubahan menjadi bentuk yang lebih dewasa. Masa remaja tengah dilihat sebagai periode terjadinya pembentukan kembali dimana pada usia ini individu mengalami pengaturan baru pada keahlian-keahlian yang lama dan yang baru dimiliki. Masa remaja akhir, yang dilihat sebagai usia yang bertolak belakang dengan usia remaja awal dan remaja tengah, merupakan usia terjadinya penggabungan, yaitu usia dimana susunan identitas diri dapat dibedakan, dan terjadi pengujian identitas diri pada lingkungan. Oleh karena itu, masa remaja akhir merupakan periode dimana pada kebanyakan individu identitas diri sudah benar-benar terbentuk.

Interaksi dengan teman sebaya merupakan hal yang sangat penting di usia remaja yang dapat menolong remaja dalam memberikan gambaran mengenai pilihan-pilihan yang ada dan nilai-nilai yang dapat dimiliki oleh remaja yang akan membentuk identitas diri remaja tersebut (Berk, 2007). Interaksi dengan teman sebaya dapat mempengaruhi pandangan remaja mengenai hubungan dengan orang lain, seperti, apa nilai yang diyakini ketika bersahabat dengan orang lain dan ketika akan memilih pasangan hidup nantinya. Selain itu, teman sebaya juga dapat mempengaruhi remaja dalam hal pencarian informasi mengenai karir dan juga
mempengaruhi keputusan remaja dalam memilih karir.

Menurut Papalia (2008) interaksi dengan teman sebaya merupakan sumber dari adanya rasa kasih sayang, simpati dan saling memahami bagi remaja. Melalui interaksi dengan teman sebaya remaja dapat mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan moral, yaitu pengetahuan mengenai apa yang benar dan salah
serta mempelajari nilai-nilai yang berkaitan dengan politik dan agama, seperti adanya keinginan untuk memperhatikan kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat, serta memilih keyakinan yang tepat bagi dirinya.

Interaksi remaja dengan teman sebaya juga dapat mempengaruhi pandangan remaja mengenai perasaan-perasaan seksual seperti gairah seksual dan perasaan tertarik, mengembangkan bentuk intimasi yang baru, serta mengatur perilaku seksual sehingga remaja dapat menghindari konsekuensi yang tidak diinginkan (Santrock, 2007). Kelompok teman sebaya merupakan tempat bagi remaja untuk dapat membentuk hubungan yang dekat, yang dapat menjadi suatu proses pembelajaran bagi remaja untuk dapat menjalankan peran sebagai orang dewasa nantinya.

Refrensi :

Berk, Laura E. (2007). Development Through The Lifespan. United State of America: Pearson Education

Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved