Aplikasi Gerak Irama dalam Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus

1. Pendekatan yang diperlukan
  1. Memanfaatkan “perasaan” yang mereka miliki (termasuk di dalamnya: kebebasan, kesan diri yang positif, motivasi yang ada dalam diri-pribadi) guna mengenal lingkungan kehidupannya secara leluasa tetapi aman. Ini dilakukan dalam rangka meningkatkan keterampilan sosial dan akademik secara lebih baik (Ashman & Elkins, 1994:354).
  2.  Diberikan latihan dasar-dasar gerak secara rutin atau terus-menerus, misalnya: berjalan, jongkok, lari, lompat, dan sejenisnya berkaitan dengan lokomotor. Setiap gerakan yang dilakukannya seyogyanya diikuti dengan irama atau ketukan sebagai “arahan-gerak”. Latihan dasar yang ditujukan pada orientasi mobilitas ini, hendaknya disesuaikan dengan hasil asesmen dengan instrumen GPI, dan diprogramkan berdasarkan konsep kerangka kerja interaksi gerak (interkasi gerak dalam hal ini adalah skills themes dari Graham, 1980). 
  3. Semua gerakan diberikan secara bertahap untuk mewujudkan perasaan percaya diri, sehingga sanggup melakukan gerakan secara mandiri. 
  4. Diberikan latihan-latihan olah-tubuh berkaitan dengan peningkatan kemampuan orientasi dan mobilitas, khususnya orientasi ruangan yang ada di sekolah/ rumah tinggalnya dengan menggunakan “tongkat-putih” atau cane.
  5. Pola gerak yang diterapkan merupakan suatu latihan yang bermanfaat bagi diri pribadinya untuk mampu melakukan suatu kesibukan. Digunakan irama tepukan tangan tertentu atau ketukan kaki, juga dengan suara-senandung sangat membantu mereka saat melakukan kegiatan gerak.
  6. Mengaktifkan indera pendengaran, penciuman, perabaan akan lebih efektif saat melakukan kegiatan gerak sebagai arahan/ komando. Misalnya, bunyi atau suara dari kokok ayam, cara berjalannya ayam/ burung, dan sejenisnya.
  7. Latihan-latihan yang bersifat sosialisasi lebih ditingkatkan. Misalnya, saat melakukan kegiatan gerak (apakah itu lokomotor, manipulatif, non-manipulatif, atau gabungan dari ketiganya) dilakukan dengan cara baris berhadapan dengan teman, berpegangan tangan dengan temannya yang ada di sebelah kiri dan kanannya, dan sejenisnya.
  8.  Latihan-latihan olah-tubuh sebaiknya dilakukan secara kontak tubuh langsung (apakah dengan anggota tubuhnya sendiri atau dengan objek benda/ anggota tubuh orang lain). Kegiatan semacam ini sangat diutamakan, khususnya saat guru memberikan contoh atau demonstrasi gerakan yang akan dilakukan dalam latihan gerak tertentu.
  9. Latihan-latihan pola-gerak didasarkan atas tingkat ketajaman penglihatan, bukan atas dasar pemikiran kepentingan guru kelas. .Media/ alat tertentu yang hendak dipergunakan dalam pembelajaran perlu diberikan modifikasi terlebih dahulu sebelum diterapkan kedalam suatu latihan pola-gerak.
2. Rancangan Pembelajaran

Sebelum menyusun suatu program pembelajarn harian, yang dikenal dengan nama satuan pelajaran (Satpel) dalam program pembelajaran berdasarkan Cara Belajar Siswa Aktif tahun 1994 atau rancangan pembelajaran (Ranpel) dalam pembelajaran berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004, perlu dilakukan langkah-langkah kegiatan pembuatan rencana pembelajaran.

a. Langkah-langkah Kegiatan Pembuatan Rancangan Pembelajaran
  1. Melakukan tes awal (asesmen) terhadap kemampuan perkembangan sosial setiap peserta didik dengan instrumen Geddes Psychomotor Inventory (GPI) sesuai dengan tingkat umur kronologis (chronological age) dari peserta didik yang bersangkutan, dan merupakan informasi awal untuk mengetahui kemampuan dan kelemahan gerak psikomotor setiap peserta didik. Geddes Psychomotor Inventory merupakan suatu model asesmen untuk penyusunan program pembelajaran individual yang banyak dipergunakan dalam layanan pendidikan anak dengan hendaya perkembangan psikomotor yang tidak normal, di negara Amerika Serikat dikenal dengan Geddes Psychomotor Development Program (Geddes, D., 1981: 37-86). 
  2. Menganalisis hasil tes GPI, guna mengetahui faktor kemampuan dan kelemahan interaksi-gerak dari setiap peserta ddik yang bersangkutan. Faktor kemampuan interaksi-gerak dapat dipakai sebagai rujukan utama pembuatan rancangan pembelajaran agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar dan baik.
  3.  Berdasarkan hasil analisis pada item 2). di atas, disusunlah pola gerak berdasarkan Konsep-konsep Kerangka Kerja Interaksi Gerak (Skills Themes dari Graham, 1980).
  4. Pola gerak yang telah dihasilkan pada item 3). diselaraskan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dalam mata pelajaran tertentu. Dalam hal ini hendaknya pola-gerak yang disusun selaras dengan tujuan yang diharapkan atau kompetensi yang diharapkan hendak dicapai dalam pembelajaran suatu mata pelajaran tertentu, misalnya: Download Artikel Lengkap : Klik Disini