Aplikasi Gerak Irama pada Anak dengan Hambatan Mendengar dan Berbicara

Di negara-negara maju, dewasa ini telah terjadi perubahan yang sangat mencolok dalam pendidikan untuk anak-anak dengan hendaya mendengar dan berbicara. Layanan pendidikan bagi peserta didik dengan kebutuhan khusus lebih dipengaruhi oleh hasil-hasil penelitian para ahli terhadap teori-teori berkaitan dengan pemberian layanan khusus, perkembangan teknologi, serta kebijakan-kebijkan pemerintah yang sangat menentukan peranan penting dalam pencapaian suatu pola layanan pendidikan (Watson, L. dalam Gregory, et al.., 1999:1dan 9). Pola layanan pendidikan baru, lebih menekankan pada keberhasilan suatu proses pembelajaran yang berfokus pada usaha pemberian keterampilan siswa dalam membaca dan berhitung serta pemahaman bahasa. Pemberian layanan pendidikan keterampilan hendaknya didahului dengan melakukan asesmen guna mengetahui tentang informasi yang tepat berkaitan dengan kebutuhan siswa yang bersangkutan.

Kebutuhan siswa berkaitan dengan keterampilan membaca, dan menulis diberikan latihan-latihan teknis terhadap pemahaman bahasa. Latihan pemahaman bahasa merupakan usaha-usaha pemerintah agar warganya “melek huruf”, tidak terkecuali bagi mereka yang mempunyai hendaya mendengar dan berbicara. “Melek huruf” merupakan hal pokok dan memegang peranan penting bagi siswa-siswa yang mempunyai hendaya mendengar dan berbicara dalam setiap tujuan layanan pendidikan. Sebagai contoh, layanan pendidikan terhadap peserta didik dengan kebutuhan khusus di Inggris, secara signifikan mengalami perubahan setelah diundangkannya peraturan pemerintah yang lebih dikenal dengan nama Educational Act of 1981. Dalam peraturan tersebut terdapat dua bentuk pemikiran, yaitu: (1) Secara tegas dinyatakan bahwa perlu adanya informasi khusus berkaitan dengan peserta didik yang mempunyai hendaya mendengar dan berbicara. Ini berarti bahwa asesmen memegang peranan penting dalam setiap penyusunan program, (2) Menempatkan seluruh peserta didik dengan hendaya pendengaran ke sekolah-sekolah umum agar mereka dapat bersosialisasi dengan peserta didik “normal” lainnya melalui kesempatan pemberian layanan pendidikan yang sama. Ini berarti bahwa pemberian layanan pembelajaran di sekolah memerlukan suatu metode khusus.

Contoh lainnya, pemerintah Amerika Serikat sejak tahun 1965 telah mengadakan suatu program khusus untuk peserta didik yang mempunyai hendaya mendengar dan berbicara di tingkat sekolah lanjutan dengan biaya penuh dari pemerintah. Pelaksanaan program diserahkan kepada National Technical Institute for the deaf (NTID), penekanan program ditujukan kearah latihan-latihan secara teknis dengan metode penyampaian khusus, dalam hal bahasa isyarat, komunikasi manual antara siswa dan guru, dan cara membuat catatan-catatan. Untuk keperluan tersebut diperlukan upaya-upaya berkaitan dengan penerjemahan bahasa isyarat, menciptakan pelatih-pelatih khusus, pemberian konseling vokasional, serta program-latihan penempatan kerja. Program tersebut mulai berkembang di tahun 1970 dan di awal tahun 1980 seluruh universitas di Amerika Serikat melakukan pemberian layanan-layanan khusus untuk mahasiswa yang mempunyai hendaya mendengar dan berbicara (Saur, Coggiola, Long & Simonson, Flexer, Wray & Black; 1986 dalam Hallahan & Kauffman;1991:293). 

Penyampaian pembelajaran dengan metode khusus dalam bentuk-bentuk latihan secara teknis dapat menggunakan ilmu gerak irama. Tujuan layanan pembelajaran khusus dengan menggunakan ilmu gerak irama terhadap siswa dengan hendaya mendengar dan berbicara di sekolah-sekolah umum dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan fisik, kesegaran jasmani dan kesehatan, keterampilan gerak, daya nalar dan kecerdasan, dan menumbuhkan kehidupan yang kreatif, reaktif, serta mampu bermasyarakat. Pemberian layanan pembelajaran dengan mengaplikasikan gerak irama di sekolah khusus maupun sekolah reguler yang menerapkan pola layanan inklusif dapat disampaikan melalui beberapa metode, antara lain dengan: (1) part method of teaching menuju ke – whole method of teaching, yakni dari metode bagian ke metode keseluruhan, (2) metode campuran yang meliputi: demonstrasi, latihan penugasan dalam suatu kegiatan, pemberian tugas, pemecahan masalah (secara eksperimen jika diperlukan).

Penyampaian metode pembelajaran yang mengaplikasikan ilmu gerak irama hendaknya memperhatikan kriteria-kriteria tertentu, yakni: (1) pendidikan yang memberikan arah pada gerakan dasar, (2) pendidikan rithmik sebagai persiapan pelajaran gerak berdasarkan musik dan tari, (3) penerapan khusus sesuai dengan tingkat kesulitan dari siswa bersangkutan. Pendidikan yang memberikan arah pada gerakan dasar merupakan usaha-usaha ke arah realisasi pembinaan yang menggunakan metode gerak irama. Dalam kegiatannya perlu diperhatikan aspek-aspek berkaitan dengan: tujuan kurikuler, tujuan instruksional-khusus atau kompetensi yang hendak dicapai, dan cara pelaksanaan yang memanfaatkan konsep-konsep gerak meliputi: dimana kita dapat bergerak, apa yang dapat kita gerakkan, bagaimana cara-cara bergerak, dan bagaimana cara meningkatkan gerak yang lebih baik. Pendidikan ritmik diperlukan pengetahuan dasar tentang gerakan dan pengetahuan dasar musik. Penerapan khusus perlu memperhatikan aspek-aspek: (1) karakteristik spesifik siswa, (2) hambatan-hambatan yang dialami siswa yang bersangkutan, dan (3) penerapan gerak dan irama yang cocok bagi kondisi setiap siswa (Delphie, B., 2001:68-77). Download Artikel Lengkap : Klik Disini