REFERENSI PENDIDIKAN

Aspek-aspek Perkembangan

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/06/aspek-aspek-perkembangan.html

A. Perkembangan Fisik

Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan – perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensorik dan keterampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh/fisik ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan.

4 aspek perkembangan fisik menurut Kuhlen dan Thompson (Hurlock, 1956) antara lain sebagai berikut :
  1. Sistem syaraf (perkembangan kecerdasan dan emosi)
  2. Otot – otot (kekuatan dan kemampuan gerak motorik)
  3. Kelenjar Endokrin (perubahan – perubahan pola tingkah laku baru)
  4. Struktur fisik/tubuh (perubahan tinggi, berat, dan proporsi)
Perubahan fisik (otak) juga merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan manusia karena otak adalah sentral perkembangan dan fungsi kemanusiaan sehingga semakin sempurna struktur otak maka akan meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).

3 tahap pertumbuhan otak menurut para ahli (Vasta, Heih & Miller, 1992) yaitu :
  1. Cell production (produksi sel)
  2. Cell migration (perpindahan sel)
  3. Cell laboration (elaborasi sel)
Perkembangan fisik (motorik) meliputi perkembangan motorik kasar dan motorik halus.

1. Perkembangan motorik kasar

Kemampuan anak untuk duduk, berlari, dan melompat termasuk contoh perkembangan motorik kasar. Otot-otot besar dan sebagian atau seluruh anggota tubuh digunakan oleh anak untuk melakukan gerakan tubuh. Perkembangan motorik kasar dipengaruhi oleh proses kematangan anak. Karena proses kematangan setiap anak berbeda, maka laju perkembangan seorang anak bisa saja berbeda dengan anak lainnya.

2. Perkembangan motorik halus

Adapun perkembangan motorik halus merupakan perkembangan gerakan anak yang menggunakan otot-otot kecil atau sebagian anggota tubuh tertentu. Perkembangan pada aspek ini dipengaruhi oleh kesempatan anak untuk belajar dan berlatih. Kemampuan menulis, menggunting, dan menyusun balok termasuk contoh gerakan motorik halus.

B. Perkembangan Intelegensi/Kognitif

Perkembangan intelegensi/kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak).

Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001).

Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain) (Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Elkind (dalam Beyth-Marom et al., 1993; dalam Papalia & Olds, 2001) mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fable (berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya). 

Beberapa uraian tentang pengertian kecerdasan/intelegensi menurut para ahli :
  1. S.C. Utami Munandar : kemampuan berpikir, belajar, menyesuaikan diri.
  2. Alferd Binet : kemampuan beradaptasi, mengadakan kritik terhadap masalah yang dihadapi, dan kemampuan untuk memecahkan masalah.
  3. L.L. Thurstone : kecakapan mengamati dan menafsirkan, kecakapan dan kefasihan untuk menggunakan kata – kata, kecakapan mengingat.
  4. Edward Thorndike : kemampuan individu untuk memberikan respon yang tepat terhadap stimulasi yang diterimanya.
  5. George D. Stodard : kecakapan dalam menyatakan tingkah laku.
  6. William Stern : kapasitas atau kecakapan umum pada individu secara sadar untuk menyesuaikan pikirannya pada situasi yang dihadapinya.
  7. Carl Whitherington : kemampuan bertindak sebagaimana dimanifestasikan dalam kemampuan – kemampuan/kegiatan – kegiatan.
  8. J.P. Chaplin (1975) : kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif.
  9. Anita E. Woolfok (1995) : kemampuan untuk belajar, memperoleh dan menggunakan pengetahuan dalam rangka memecahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan.
Teori – teori intelegensi yang dikembangkan beberapa orang ahli antara lain sebagai
berikut :

  1.  Teori two factor oleh Charles Spearman (1904) yang berisi teori “g” (general factor) dan “s” (specific factor).
  2. Teori primary mental abilities oleh Thurstone (1938) yang berisi kemampuan verbal/berbahasa, kemampuan nalar/berpikir logis, kemampuan tilikan ruang, kemampuan menghitung, kemampuan mengamati dengan cermat.
  3. Teori multiple intelligence oleh J.P. Guilford dan Howard Gardner. Teori ini berisi operasi mental (proses berpikir), content (isi yang dipikirkan), product (hasil berpikir).
  4. Teori triachic of intelligence oleh Robert Stenberg (1985, 1990). Teori ini berisi tentang psoses berpikir, meniru/belajar dari pengalaman baru, dan adaptasi dengan lingkungan.
Download Artikel Lengkap : Klik Disini
Aspek-aspek Perkembangan, Pada: 9:38 AM
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved