REFERENSI PENDIDIKAN

Hambatan-hambatan yang Dihadapi Anak dengan Ketidakmampuan Penglihatan

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/06/hambatan-hambatan-yang-dihadapi-anak.html

Hambatan-hambatan bagi anak dengan kebutuhan khusus buta total antara lain sebagai berikut. 
  1. Sebagian besar dari mereka saat berjalan dilakukan sambil menyeret kakinya, dengan gerak tangan ke kiri dan ke kanan dihadapan mukanya.
  2.  Saat berjalan atau kegiatan gerak lainnya, diantara mereka selalu menggerak-gerakkan anggota tubuh lainnya, yang tidak ada arti dan arah tujuan tertentu.
  3. Terkadang mereka cenderung verbalisme. Pengertian verbalisme pada anak dengan hendaya penglihatan dimaksudkan bahwa saat mereka mengucapkan suatu objek melalui kata, umumnya kata yang muncul tidak sesuai dengan tujuannya. Hal ini terjadi disebabkan mereka menangkap objek-bunyi tertentu berdasarkan hasil pengalaman-pengalaman yang diperolehnya melalui indera dengar, taktual atau daya raba, dan indera penciuman. Contoh, terhadap kata atau bunyi “Indian” mereka umumnya merespon dengan kata-kata yang tidak sesuai dengan visualnya atau tidak sesuai dengan kenyataan misalnya dengan kata “merah” atau “cokelat”. Olehkarenanya, sasaran pembelajaran terhadap anak dengan hendaya penglihatan hendaknya dapat diarahkan untuk mampu berbahasa secara maksimal dengan menggunakan media berkaitan dengan budaya yang ada dalam kehidupannya. Penggunaan media budaya sekitar mereka dimaksudkan agar saat mereka berbicara dengan kata-kata tertentu dapat sesuai dan mempunyai makna yang tepat saat melakukan interaksi sosial, dan dapat menjadi arahan dirinya untuk berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku. Kegiatan yang diterapkan hendaknya dilakukan dengan sistem pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan (Warren 1981:207 dalam Hallahan 1987:294). 
  4. Mempunyai rasa takut yang berkepanjangan saat melakukan orientasi dan mobilitas, sehingga memerlukan latihan khusus secara berulangkali. 
  5. Menggunakan teknik meraba dan indera pendengaran saat melakukan kegiatan sehari-hari, sehingga postur tubuh terlihat ganjil dan tidak sesuai dengan pola-gerak sebenarnya.
  6.  Sebagian besar anak dengan buta total mengalami hambatan perkembangan dalam pemahaman terhadap konsep benda atau objek secara utuh. Misalnya, untuk memahami konsep yamg utuh tentang anjing, seorang anak dengan hendaya penglihatan merasa sulit untuk memetakan konsep anjing dalam benaknya jika hanya mendengar gonggongannya atau hanya meraba bulu halus serta bau khas dari binatang tersebut (Hallahan 1991:309).
  7. Sebagian besar anak yang mempunyai hambatan penglihatan banyak mengalami kesulitan-kesulitan untuk memahami konsep-konsep tentang ruang. Berdasarkan hasil penelitian para ahli, pengkonseptualisasi ruang dapat dilakukan oleh mereka dengan hendaya penglihatan melalui suatu latihan tertentu secara terus-menerus (Fraiberg, Siegel & Gibson, 1966; McReonalds & Warchel, 1954; Von Senden, 1960; dan Warchel, 1951 dalam Hallahan 1987:295). Mempelajari konsep tentang ruang biasanya dilakukan oleh mereka dengan menggunakan indera-indera lainnya selain indera penglihatannya. Misalnya, mereka akan memahami suatu ruang dengan cara memperhatikan seberapa lamakah waktu yang diperlukan untuk mencapai suatu jarak pada sasaran tersebut. Cara lain dengan menggunakan kemampuan taktual dan pengalaman-pengalaman kinestetik secara langsung pada objek-objek yang ada di sekelilingnya. Jadi untuk mengenali dan memahami benda-benda atau objek yang bersifat geografis, contohnya: gunung, dan yang bersifat mikroskopik, contohnya: bakteri, hanya dapat dikenali melalui pemahaman secara analogi (membandingkan dengan objek sejenisnya) dan melakukan pengalaman-pengalaman eksplorasi terhadap benda-benda yang bersangkutan (Telford dan Sawrey, 1977:378-379 dalam Hallahan, 1987:295).
Anak dengan hendaya penglihatan sebagian (partially sighted) atau anak yang mampu melihat dengan jarak yang sangat dekat (low vision), pada umumnya mengalami kesulitan dalam perkembangan konseptual, kecuali mereka yang mengalami hendaya penglihatan sebagian setelah ia dilahirkan. Hal ini disebabkan karena sebelumnya anak dengan hendaya penglihatan sebagian telah mendapatkan pengalaman-pengalaman tentang objek secara visual. 

Gejala-gejala siswa dengan hendaya low vision atau partially sighted, antara lain seperti berikut ini.
  1. Sering mengusap mata dan merasa gatal-gatal pada kelopak biji matanya.
  2. Saat bergerak ke arah depan atau membaca, selalu menutup salah satu matanya dan selalu mencondongkan kepala ke depan.
  3. Mengalami kesulitan membaca.
  4. Sering mengedipkan matanya secara berulangkali.
  5. Saat memegang buku bacaan untuk dibaca selalu di arahkan dekat ke matanya.
  6. Tidak mampu melihat secara jelas pada objek atau tulisan pada jarak yang cukup jauh.
  7. Sering mengeluarkan air mata.
  8. Sering mengalami frustasi saat melakukan latihan orientasi mobilitas
  9. Selalu tertukar dalam menulis kata dan/ atau kalimat (misalnya, b – d, ani - ina, dan sejenisnya).
  10. Selalu mengeluarkan suara seperti berbisik saat membaca secara menyimak tanpa suara.
  11. Kesulitan dalam membaca kata-kata dalam suatu baris atau angka–angka dalam kolom.
  12. Seringkali “menghilangkan” kata-kata sambung (small words) saat membaca.
  13. Tidak mampu untuk menuliskan kalimat pada garis yang lurus.
  14. Selalu menggunakan tangan atau jari untuk menandakan halaman dari buku yang ia baca. (Hallahan, 1987:291; Hallahan 1991:307; Ashman & Elkins, 1994:352). Download Artikel Lengkap : Klik Disini
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved