REFERENSI PENDIDIKAN


A. PENDAHULUAN

Bahasa merupakan alat komunikasi bagi manusia, berupa lambang atau tanda, dan selalu mengandung pikiran dan perasaan. Pada proses komunikasi terjadi kegiatan menyimak dan menerima informasi. Dalam kehidupan sehari-hari aktivitas menyimak terjadi antar anggota keluarga, baik antar anak dan orang tua, atau antara anak-anak sendiri. Keluar dari lingkungan keluarga terjadi dialog, percakapan, diskusi dengan teman sepermainan ataupun teman sekelas dan guru sebagai pendidik siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar di sekolah, sebagai upaya untuk pengembangan kemampuan keterampilan berbahasa anak. 

Menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa awal yang diperoleh anak, kemudian berbicara, sesudah itu membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara umumnya dipelajari sebelum memasuki sekolah, sedangkan membaca dan menulis dipelajari di sekolah. Keterampilan berbahasa mencakup empat aspek yaitu: a) menyimak, b) berbicara, c) membaca, d) menulis. Keterampilan berbahasa tersebut tidak dapat dipisahkan, saling berkaitan dan mengisi (Tarigan, 1986:2).

Tujuan utama pengajaran bahasa ialah agar siswa terampil dalam menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Menyimak merupakan aktivitas pencarian informasi lisan dalam interaksi belajar mengajar. Guru berperan sebagai komunikator yang menyampaikan pesan, siswa menerima pesan disebut komunikan. Metode apapun yang dipergunakan guru dalam menyampaikan materi pelajaran tidak lepas dari kegiatan menyimak. Metode pembelajaran yang dipilih sangat tergantung kepada guru dengan memperlihatkan tujuan, bahan, dan keterampilan proses yang ingin dikembangkan. Pengajaran menyimak yang bervariasi sangat menunjang minat dan gairah belajar siswa. Proses belajar yang dilandasi oleh minat dan gairah belajar siswa diharapkan dapat lebih berhasil saat di kegiatan belajar mengajar di kelas.

Penggunaan media yang sesuai akan memudahkan dalam penyampaian materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa. Oleh karenanya guru dituntut untuk dapat memilih dan menggunakan media yang sesuai dengan materi yang disampaikan. Salah satu prinsip dalam penggunaan media adalah keselarasan antara kebutuhan belajar siswa dengan media itu sendiri. Karena itu dalam memilih media, pemahaman terhadap
karakteristik siswa menjadi penting. Lebih jauh, penggunaan sebuah media yang bervariasi dalam mengajar akan membuat suasana belajar yang lebih menarik. Penggunaan media audio visual dalam bentuk video diharapkan dapat membuat siswa lebih tertarik pada materi pelajaran dalam kegiatan belajar mengajar. Video dapat mempermudah dan memperjelas proses daya simak siswa sehingga media video dapat meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran sekaligus meningkatkan daya simak.

Media video saat ini sudah mudah diperoleh, kemampuan media video dapat melukiskan gambar secara hidup dan bersuara sehingga dapat memberi daya tarik tersendiri. Media video dapat menyajikan informasi, memaparkan proses, menjelaskan konsep-konsep yang rumit, dan mengajarkan keterampilan, mengatasi dalam jarak dan waktu, dan mempengaruhi sikap. Media video diharapkan dapat membantu memperjelas penyampaian pesan. Gambar yang ditampilkan melalui video tampak lebih hidup seperti aslinya, antara gerakan gambar dan suara menjadi sejalan, sehingga anak merasa lebih tertarik untuk menyimak materi yang disampaikan.

Sebagai contoh, dalam proses belajar yang digunakan media video berupa film cerita atau dongeng. Dongeng pada dasarnya dapat dimungkinkan untuk memusatkan perhatian siswa untuk memahami cerita. Penelitian sebelumnya dalam skripsi Rosiani, E. (2004: 55) membuktikan bahwa penggunaan media video dan media gambar dapat memberi pemahaman isi cerita pada anak tunagrahita.

Anak Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) disadari selalu mendapat kesulitan di sekolah. Mereka selalu gagal untuk melakukan hubungan sosial. Ciri utama kecenderungan selalu bergerak dan berpindah dari satu kegiatan kepada kegiatan lain tanpa dapat menyelesaikan tugas yang diberikan dari satu tempat ke tempat lain, jarang untuk berdiam selama kurang lebih 5 hingga 10 menit guna melakukan suatu tugas kegiatan yang diberikan gurunya, tidak dapat konsentrasi dengan baik bila mengerjakan suatu tugas yang menuntut keterlibatan kognitif, serta tampak adanya aktivitas yang tidak beraturan, berlebihan, dan mengacau. Pada dasarnya anak bukan tidak mampu belajar”, tetapi kesulitannya untuk memusatkan perhatian menyebabkan mereka :” tidak siap untuk belajar”

Berkenaan dengan hal tersebut, dalam konteks menyimak yang merupakan hal penting dalam pengajaran keterampilan berbahasa maupun pembelajaran lainnya, Anak ADHD memerlukan pembelajaran individual dengan media yang memungkinkan anak mau belajar, dengan demikian penggunaan media video dalam pembelajaran menyimak dan dalam konteks peningkatan ketrampilan menyimak siswa Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) menjadi menarik diteliti.

Dalam konteks penelitian ini masalahnya dirumuskan sebagai berikut: Sejauh mana kontribusi media video dalam meningkatkan kemampuan menyimak cerita pada siswa Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran sejauhmana kontribusi penggunaan media video terhadap peningkatan kemampuan menyimak cerita pada sisa Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) di SD Bintang Harapan Bandung. Download Artikel Lengkap : Klik Disini
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved