REFERENSI PENDIDIKAN

Model Bimbingan Perkembangan Perilaku Adaptif Siswa Tunagrahita dengan Memanfaatkan Permainan Terapeutik Dalam Pembelajaran

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/06/model-bimbingan-perkembangan-perilaku.html

Inti Model Bimbingan Perkembangan Perilaku Adaptif Siswa Tunagrahita dengan Memanfaatkan Permainan Terapeutik dalam Pembelajaran, adalah mengembangkan lingkungan belajar terpadu peserta didik tunagrahita sehingga individu tunagrahita dapat berinteraksi secara efektif dengan lingkungannya. Lingkungan belajar semacam ini dimaksudkan agar setiap peserta didik tunagrahita dapat mengembangkan kompetensi diri seoptimal mungkin melalui penyediaan kegiatan-kegiatan yang memanfaatkan permainan terapeutik. Program layanan bimbingan pengembangan perilaku adaptif di sekolah luar biasa untuk anak tunagrahita (SLB-C) merupakan bagian integral dari pendidikan itu sendiri dan sebagai pengembangan kompetensi individu. Pola bimbingannya merupakan aplikasi fungsi dan peran bimbingan secara terpadu kedalam program pembelajaran. Aplikasi fungsi dan peran bimbingan perlu disesuaikan dengan karakteristik siswa tunagrahita yang bersangkutan, yaitu adanya deviasi pada aspek mental/ sosial, emosional, fisik, dan intelektual (Hadis, A. 2000:293).

Model Bimbingan perkembangan perilaku adaptif siswa tunagrahita dengan memanfaatkan permainan terapeutik dalam pembelajaran ini merupakan hasil kajian terhadap model hipotetik yang diujicobakan melalui penelitian tindakan kolaboratif dan dikembangkan di dua sekolah luar biasa untuk tunagrahita (yaitu di SLB-C Sukapura dan SLB-C Plus Asih Manunggal) berdasarkan kepada analisis paduan antara: (a) hasil temuan empiris-obyektif di lapangan, berupa kebutuhan dan masalah siswa tunagrahita, dan kondisi bimbingan aktual, dengan (b) kaidah-kaidah bimbingan yang bersifat konseptual, yaitu: kajian teoritik dan hasil-hasil penelitian. Model ini terdiri atas komponen-komponen: (1) rasional; (2) visi dan misi bimbingan perkembangan perilaku adaptif; (3) tujuan bimbingan perkembangan perilaku adaptif; (4) isi bimbingan perkembangan perilaku adaptif; (5) pendukung sistem bimbingan perkembangan perilaku adaptif; dan (6) komponen dasar utama bimbingan perkembangan perilaku adaptif. 

1. Rasional

Layanan bimbingan di sekolah luar biasa di Indonesia seyogianya sejalan dan tidak terlepas dari perkembangan dunia dewasa ini berkaitan dengan prinsip, kebijakan dan praktek dalam pendidikan berkebutuhan khusus, terutama setelah konferensi dunia di Salamanca, Spanyol tanggal 7 hingga 10 Juni 1994 untuk memperluas gerakan Pendidikan untuk Semua (Education for All), dan dilanjutkan dengan deklarasi Dakar tahun 2000 yang merupakan kerangka kerja untuk merespon kebutuhan dasar belajar warga masyarakat yang menggariskan bahwa pendidikan harus menyentuh semua lapisan masyarakat, tanpa mengenal batas kelompok, ras, agama, dan kemampuan potensial yang dimiliki (Sunaryo, K., 2003:69). Perubahan tersebut sangat besar dan mendasar sehingga layanan pendidikan terhadap siswa tunagrahita tidak menutup kemungkinan terhadap kepentingan untuk memberikan hak mendapatkan kesempatan (opportunity right), haksebagai makhluk Tuhan yang perlu mendapatkan kesejahteraan sosial (human right, social and welfare rights). 

Perspektif pendidikan tunagrahita memerlukan tinjauan mendalam berkaitan dengan: (1) spesifikasi perilaku adaptif, (2) tingkat kebutuhan layanan yang diperlukan sesuai dengan tingkat keberadaannya, (3) prosedur pemberian layanan berkaitan dengan pola mendiagnosis, mengklasifikasikan, dan mengidentifikasikan, (4) memerlukan perangkat instrumen dalam proses asesmen (khususnya dalam needs assessment). Layanan bimbingan perkembangan perilaku adaptif siswa tunagrahita tidak terlepas dengan kepentingan untuk meningkatkan perilaku sosial siswa tunagrahita. Perilaku sosial akan berkaitan dengan cara individu berinteraksi dengan lingkungan, oleh karenanya diperlukan prinsip-prinsip belajar dan perkembangan kognitif. 

Prinsip-prinsip belajar memandang konteks sosial anak tunagrahita meliputi interaksi pribadi dengan lingkungan yang mempunyai kapasitas: bergerak kearah objek (merupakan pendekatan perilaku), dan menjauhi objek (sebagai perilaku menjauhi), sehingga siswa tunagrahita mempunyai tiga bentuk hubungan sosial berupa: locus of control, expectancy for failure, dan outerdirectedness. Sejalan dengan hal ini maka pendekatan layanan bimbingan yang diintegrasikan dalam pembelajaran siswa tunagrahita selalu berkaitan dengan behavioral modification sehingga memungkinkan diterapkan pola operant conditioning yang menggunakan re-inforcemnt dalam proses pencapaian tujuan akhir bimbingan. Implikasi dari teori belajar sosial tersebut, program yang disusun oleh pembimbing hendaknya memperhatikan kemampuan fungsional setiap siswa tunagrahita dengan bertitik tolak pada informasi keberhasilan melaksanakan tugas-tugas sebelumnya, yang dihasilkan sebagai sasaran yang realistik. 

Teori perkembangan kognitif dari Piaget (1969), menyatakan bahwa perkembangan mental anak merupakan hasil dari interaksi yang dilakukan secara terus-menerus terhadap lingkungan perkembangan, melalui fase-fase perkembangan anak pada tingkat: (1) sensorimotor, (2) pra operasional, (3) operasi konkret, (4) operasi formal (Patton, 1986:96; Wadsworth, 1991; Yusuf, S., 2000:6; Suparno, P., 2001:25; Smith, 2002:250). Lingkungan perkembangan siswa adalah “keseluruhan fenomena (peristiwa, situasi, atau kondisi) fisik atau sosial yang mempengaruhi atau dipengaruhi perkembangan siswa” (Yusuf, S., 2000:35). 

Implikasi dari teori perkembangan kognitif ini, penyampaian motivasi bimbingan yang diintegrasikan kedalam pembelajaran melalui modifikasi perilaku siswa saat disampaikan kegiatan-kegiatan lingkungan yang disusun secara sistematik sebagai bentuk operant conditioning, misalnya: (a) social inforcers, dengan cara pemberian hadiah, menyentuh/ memeluk dengan penuh perasaan; (b) tangible, melalui pemberian pujian, atau penghargaan tertentu; (c) negative consequence untuk perilaku-perilaku yang tidak diharapkan. Motivasi semacam ini sangat perlu bagi siswa tunagrahita, karena faktor utama kegagalan melakukan penyesuaian dengan lingkungan dirinya disebabkan oleh faktor sosial-emosional meliputi: perasaan takut, perasaan ketidakpuasan disebabkan oleh orang lain, agresi, dan sikap negatif terhadap suatu kewenangan (Schloss, 1984:3). Download Artikel Lengkap : Klik Disini

Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved