REFERENSI PENDIDIKAN

Model Pembelajaran Pengembangan Diri dalam Upaya Mengembangkan Potensi Anak Tunalaras

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/06/model-pembelajaran-pengembangan-diri.html

A. Pendahuluan

Anak tunalaras adalah salah satu bagian dari kelompok anak berkebutuhan khusus yang memiliki karakteristik tersendiri dalam belajarnya. Karakteristik anak tunalaras relatif berbeda dengan kelompok anak anak berkebutuhan khusus lainnya ataupun anak normal pada umumnya. Perbedaan karakteristik tersebut muncul sebagai akibat dari ketunalarasan yang disandangnya. Ketidak matangan emosi dan sosial selalu berdampak pada keseluruhan prilaku dan pribadinya, termasuk dalam belajarnya.

Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan pengembangan diri anak tunalaras pada dasarnya memiliki perbedaan dengan anak normal maupun anak luar biasa lainnya, yakni mengalami hambatan. Hambatan kemampuan pengembangan diri pada anak tunalaras akan berdampak terhadap kegiatan pembelajaran maupun perolehan hasil belajar.

Peningkatan mutu pendidikan bagi anak tunalaras merupakan salah satu upaya yang perlu mendapat perhatian. Banyak persoalan yang dapat dilakukan dalam meningkatkan mutu pendidikan bagi anak tunalaras, mengingat banyak anak yang memperoleh hasil belajar tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya, khususnya pada jenjang SDLB bagian E. Salah satu kemampuan yang dapat dijadikan modalitas dalam mengembangkan potensi anak tunalaras yakni kemampuan pemgembangan diri.

Mulai tahun 2006 ditetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 Tahun 2006 tentang standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Nomor 23 Tahun 2006 tentang standar kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Permendiknas nomor 22 dan 23 Tahun 2006 dimulai secara serentak pada tahun ajaran 2006/2007 di seluruh SD, SMP dan SMA/SMK, termasuk pada satuan pendidikan luar biasa. Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap selama tiga tahun ajaran, sehingga pada tahun ajaran 2008/2009 telah terlaksana secara menyeluruh pada semua tingkatan kelas.

Pengembngan diri di sekolah ternyata belum dapat dilaksanakan, pada dasarnya guru belum memahami tentang pengembangan diri, apakah bentuk mata pelajaran, siapa yang berhak mengajarkannya, dan lain sebagainya. Padahal  keberadaan pengembangan diri bagi anak tunalaras sangat diperlukan, yaitu untuk mengembangkan semua potensi yang dimiliki oleh anak. Modifikasi prilaku merupakan berbagai teknik dan prosedur yang ada pada teori belajar. Prinsipprinsip belajar yang sistematis dapat diterapkan untuk mengatasi gangguan prilaku anak. Melalui modifikasi prilaku berusaha menghilangkan masalah-masalah tingkah laku tertentu, dan berusaha memunculkan tingkah laku lainnya yang diharapkan. Skiner mengemukakan tiga cara untuk mengubah tingkah laku individu: “a) Mengubah peristiwa-peristiwa yang mendahului dan membangkitkan tingkah laku khusus, b) Satu jenis tingkah laku yang timbul dalam suatu keadaan dapat diubah atau dimodifikasi, c) Akibat dari tingkah laku tertentu dapat diubah; dengan demikian tingkah laku itu dapat dimodifikasi”. (Ibrahim; 1996: 115).

Pada anak luar biasa misalnya pada anak autisme, prosedur peneladanan dikuti dengan prosedur yang lain hasilnya lebih afektif dibanding dengan hukuman. Misalnya “meniru ekspresi wajah anak autisme” (Rudi Sutadi; 2000; Tin Suharmini; 2002). Prosedur peneladanan berlangsung dalam dua tahap, yaitu”tahap pemilikan, dan tehap pelaksanaan”. (Sutarlinah Soekadji 1983). Tahapan-tahapan tersebut adalah; 1) Tahap pemilikan; adalah tahap masuknya prilaku dalam perbendaharaan prilaku subjek. Subjek memperoleh dan mempelajari prilaku teladan yang diamati, 2) Tahap pelaksanaan; adalah subjek melakukan prilaku yang telah dipelajari dari teladan.

Prosedur meneladani dapat dilakukan dengan penyajian orang-orang yang masih hidup, dibutuhkan bagi subjek yang memerlukan umpan balik dari teladan, partisipasi teladan, atau bantuan fisik. Prosedur meneladani banyak dilakukan bagi anak-anak luar biasa yaitu anak tunagrahita dan tunalaras. Pelaksanaannya dapat dilakukan “secara langsung atau melalui bermain peran” (Purwandari; 2002).

Prilaku individu banyak dibentuk dan dipelajari melalui model, yaitu dengan mengamati dan meniru prilaku orang lain untuk membentuk prilaku baru dalam dirinya. Pada anak normal proses peniruan dapat dilakukan dengan mudah, pada anak tunalaras tidak semudah seperti anak normal. Prosedur meneladani adalah prosedur yang memanfaatkan proses belajar melalui pengamatan, dimana prilaku seseorang teladan, berperan sebagai perangsang terhadap pikiran, sikap, atau prilaku subjek mengamati tindakan untuk ditiru atau diteladani. Pada dasarnya individu lebih trainable daripada educable, maksudnya secara nalar tidak begitu baik, tetapi bila mengamati dan menirukan individu akan lebih unggul. Peneliti mengujicobakan model pengembangan diri dalam upaya meningkatkan potensi anak tunalaras. Akhir dari penelitian ini diharapkan dapat menemukan model pengembangan diri yang sesuai untuk mengembangkan potensi anak tunalaras.

B. Metode Penelitian

Sesuai dengan permasalahan serta tujuan penelitian, maka penelitian ini menggunakan model pendekatan penelitian dan pengembangan. Langkah yang. . .Download Artikel Lengkap : Klik Disini

Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved