REFERENSI PENDIDIKAN

Pengertian Anak dengan Kesulitan Belajar

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/06/pengertian-anak-dengan-kesulitan-belajar.html

Permasalahan berkaitan dengan arti kata muncul saat memberikan definisi terhadap istilah kesulitan belajar (learning disability) yang terjadi saat proses belajar, ditinjau berdasarkan orientasi yang bersifat pendidikan dan klinis. Para ahli klinis menyebutnya dengan istilah “ketidakberfungsian cerebral secara minimal atau adanya cedera pada otak” (minimal cerebral dysfunction or brain injured) (Geddes, D., 1981:111; Lerner, J., 1985:51), ketidakberfungsian otak secara minimal (minimal brain dysfunction) (Kelly & Vergason, 1978:91; Lerner, J., 19885:35), disleksia (dyslexia) dan ketidakmampuan perseptual (perceptual disability)(Ashman, A &Elkins, J., 1994:238). Di sisi lain, para pendidik menyebutnya dengan istilah: hambatan dalam pendidikan (educationally handicapped), atau hambatan berkaitan dengan persepsi (perceptually handicapped). Anak-anak dengan hendaya kesulitan belajar, secara umum mempunyai inteligensi yang berada di rerata normal atau di bawah rerata normal. Bagi mereka yang dikategorikan sebagai anak dengan inteligensi di bawah normal, tidak diklasifikasikan sebagai tunagrahita.

Ada dua definisi tentang kesulitan belajar (learning disability) yang sangat berperan dalam penyusunan definisi yang ada pada Public Law (PL) 94-142, the Education for All Handicapped Children Act (Departemen Pendidikan Amerika Serikat, 1977). Ke dua definisi tersebut adalah: (1) definisi dari hasil kongres panitia penasihat nasional untuk anak-anak luar biasa di Amerika Serikat, dikenal dengan nama Congres of the National Advisory Committee on Handicapped Children (1968), dan (2) definisi dari panitia kerja sama nasional untuk kesulitan belajar, dikenal dengan nama: the National Joint Committee on Learning Disabilities (NJCLD) tahun 1981.

Konsep-konsep dasar utama dalam definisi pertama (PL 94-142), memuat empat hal sebagai berikut.
  1. Seseorang dinyatakan mempunyai hendaya kesulitan belajar dalam satu atau lebih dari proses dasar psikologis (proses mengacu ke pada kemampuan hakiki sebagai pra-syarat penguasaan suatu keterampilan, seperti: memori, persepsi pendengaran, persepsi penglihatan, dan berbahasa secara lisan).
  2. Seseorang mempunyai hambatan dalam belajar, khususnya berkaitan dengan: berbicara, mendengarkan, menulis, membaca (seperti, keterampilan mengenali huruf dan pemahamannya), dan matematika (berupa penghitungan dan mengemukakan alasan-alasan).
  3. Masalah kesulitan belajar yang ada bukan disebabkan oleh kasus-kasus utama seperti: hendaya visual dan pendengaran, kelainan-gerak, tunagrahita, gangguan emosional, gangguan ekonomi, lingkungan atau keadaan yang merugikan yang diperoleh dari suatu budaya.
  4. Terlihat adanya perbedaan yang sangat mencolok diantara potensi-nyata belajar anak dan pencapaian kecakapan taraf rendah dari anak yang bersangkutan.
Sedangkan konsep-konsep utama dari definisi kedua (NJCLD), meliputi hal sebagai berikut:
  1. Hendaya kesulitan belajar merupakan kelompok kelainan yang beraneka-ragam. Seseorang dengan hendaya kesulitan belajar banyak memunculkan permasalahan yang berbeda-beda.
  2. Permasalahan yang terjadi merupakan masalah yang benar-benar hanya ada pada perorangan. Diartikan bahwa hendaya kesulitan belajar terjadi akibat adanya faktor yang ada pada diri sendiri bukan dari faktor-faktor eksternal seperti: sistem lingkungan atau sistem pendidikan.
  3. Perhatian terhadap hendaya kesulitan belajar hendaknya tertuju pada ketidakberfungsian sistem syaraf pusat. Karena telah dikenali sebagai masalah yang mendasar dari faktor bilogis.
  4. Hendaya kesulitan belajar, umumnya diikuti dengan kondisi kelainan lain. Telah diketahui secara nyata bahwa umumnya seseorang dengan hendaya kesulitan belajar diikuti dengan hendaya-penyerta seperti kelainan emosional pada saat yang bersamaan.
Menurut Nathan (1963), istilah kesulitan belajar (learning disability) diberikan kepada anak yang mengalami kegagalan dalam situasi pembelajaran tertentu. Dalam hal ini belajar didefinisikan sebagai “perubahan perilaku yang terjadi secara terus-menerus yang tidak diakibatkan oleh kelelahan atau penyakit” (dalam Cruickshank & Hallahan, 1975:4). Maka setiap karakteristik yang bersifat individu merupakan hasil dari perpaduan pengaruh-pengaruh lingkungan dan kondisi-kondisi genetika, sehingga variabel-variabel organismik, dan genetika sangat berpengaruh terhadap perilaku selama lingkungan juga turut berpengaruh. Pengaruh organismik, dan genetika memerlukan adanya respon lingkungan yang efektif (Throne, 1970, 1972 dalam Cruickshank & Hallahan, 1975:4).

Perubahan-perubahan dalam perilaku dan belajar setiap individu dapat terjadi melalui manipulasi variabel lingkungan dan genetika pada situasi khusus dari suatu perkembangan yang bersifat individu. Sehingga terhadap anak-anak dengan hendaya kesulitan belajar (learning disability), tunagrahita (mentally retarded), cerebral palsy mempunyai dampak terhadap kemampuan mengatasi kondisi-kondisi lingkungan secara luar biasa yang berbeda dengan anak-anak normal. Jika inteligensi didefinisikan secara operasional sebagai “proses melalui pembelajaran terhadap anak yang menggunakan sarana budaya dalam upaya untuk mengetahui dan melakukan manipulasi lingkungan”, maka dapatlah diterima bahwa setiap perkembangan inteligensi secara langsung berkaitan dengan dukungan yang berhubungan dengan azas keturunan (genetika) dari perseorangan dan beberapa lingkungan dimana anak hidup. Perbedaan lingkungan mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap perkembangan inteligensi dan secara relatif proporsi genetika dan lingkungan akan berbeda-beda pula hasilnya dalam tes inteligensinya.

Faktor-faktor lingkungan anak, nutrisi, dan kesehatan merupakan hal yang penting bagi perkembangan dan pertumbuhan bayi dan anak-anak. Perhatian terhadap perbedaan-perbedaan dalam strategi belajar yang memasukkan pengaruh-pengaruh lingkungan dan perkembangan mental merupakan aspek-aspek kualitatif dari perilaku anak-anak. Konsep dasar dalam kesehatan anak menyatakan bahwa pemberian makanan
Download Artikel Lengkap : Klik Disini

Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved