REFERENSI PENDIDIKAN

Pengertian Hambatan Kondisi Fisik-Motorik

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/06/pengertian-hambatan-kondisi-fisik.html

Salah satu kasus utama hendaya fisik-motorik pada anak-anak adalah kerusakan atau kemunduran sistem syaraf pusat, yaitu pada otak atau syaraf tulang belakang. Seorang anak dengan kerusakan otak seringkali menunjukkan adanya berbagai gejala-gejala yang bersifat perilaku, termasuk ke dalam gejala bersifat perilaku adalah: hendaya perkembangan fungsional, masalah-masalah belajar, masalah yang bersifat persepsi, kelangkaan koordinasi, suka membuat keonaran, gangguan emosional, kelainan berbicara dan berbahasa. Gejala-gejala lain yang menunjukkan adanya cedera otak atau malfungsi ialah adanya hendaya fungsi gerak, kelumpuhan, dan beberapa tipe dari serangan secara tiba-tiba pada jantung sehingga menyebabkan kejang-kejang atau gangguan kontraksi sekelompok otot (seizure) (Hallahan & Kauffman, 1991:346).

Walaupun otak seseorang dalam keadaan utuh dan berfungsi sebagaimana mestinya, seseorang bisa saja mempunyai hendaya yang bersifat neurologis yang disebabkan oleh adanya cedera pada syaraf tulang belakang. Cedera pada syaraf  tulang belakang dapat menyebabkan seorang anak kehilangan perasaan atau sensasi, tidak mampu mengontrol gerakan, tidak mampu merasakan atau melakukan gerakan pada beberapa bagian tubuh.

Hendaya secara neurologis disebabkan beberapa kasus, termasuk: penyakit menular, kehabisan oksigen, keracunan, ketidakberfungsian bawaan, dan trauma psikis karena kecelakaan. Polio atau kelumpuhan semenjak masa kanak-kanak merupakan suatu contoh dari penyakit menular yang menyerang syaraf otak dan syaraf tulang belakang penyebab kelumpuhan. Spina bifida merupakan contoh dari ketidakberfungsian bawaan pada tulang belakang penyebab kelumpuhan.

Beberapa kasus pada cedera otak sangatlah sulit untuk diidentifikasi penyebab hendayanya secara tepat. Yang terpenting dalam hal ini adalah: ketika sistem syaraf seorang anak mengalami cedera, tidak perduli penyebabnya, kelemahan pada otot atau kelumpuhan hampir selalu merupakan petunjuk terhadap gejala-gejala adanya cedera pada sistem syaraf. Disebabkan kelumpuhan pada anggota tubuh menyebabkan seorang anak tidak dapat bergerak sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan anak lainnya, maka tipe pendidikannya dilakukan secara khusus serta memerlukan peralatan yang spesifik, prosedur khusus, atau akomodasi.

Hendaya keadaan fisik-motorik yang paling menonjol dan banyak dilakukan layanan pendidikan adalah: cerebral palsy (CP), spina bifida (SB), developmental coordination disorder (DCD). Bahasan berfokus pada implikasi khusus untuk dapat memahami proses-proses perkembangannya.

Cerebral Palsy (CP) bukan suatu penyakit dalam pengertian bahasa, tidak menular, dan tidak progresif atau makin lama makin memburuk, kecuali tidak mendapatkan penyembuhan yang benar sehingga terjadi komplikasi (Hallahan & Kauffman, 1991:347). Cerebral Palsy merupakan kelainan gerak dan kelainan postur  tubuh disebabkan oleh adanya cedera yang permanen pada otak saat masih dalam perkembangan (Bax, 1964 dalam Haskel & Barret, 1993:2). Kelainan pada aspek gerak seringkali diikuti dengan kerusakan pada penglihatan, pendengaran, berbicara, dan inteligensi. Ditandai pula dengan kelangkaan kontrol terhadap lidah dan bibir, kelainan persepsi visual, hilangnya rasa pada daya taktil, kelainan berkaitan dengan pengenalan ruang atau tempat, dan seizure. Kondisi kelainan CP bisa terjadi saat dalam kandungan, saat dilahirkan, dan saat setelah dilahirkan atau kombinasi dari ketiga faktor tersebut.

Kasus dalam kandungan (pre-natal) meliputi faktor keturunan walupun sangat jarang, penyakit infeksi yang dikandung sang ibu saat mengandung, kekurangan oksigen pada otak janin, prematur atau kelahiran sebelum waktunya, kelainan metabolis pada sang ibu seperti diabetes atau toxaemia, dan seorang ibu hamil yang sering mendapatkan sinar X-rays sehingga terjadi cedera otak pada janin. Beberapa kasus CP pada pre-natal lainnya tidak diketahui. Kasus dalam proses melahirkan (peri-natal) meliputi: cedera saat dilahirkan, dan penurunan suplai oksigen pada otak bayi. Pada saat sesudah dilahirkan (post-natal) adalah infeksi pada otak, seperti meningitis dan encephalitis.

Ada tiga macam CP yaitu: spastik (spasticity), atetosis (athetosis), dan ataksia (ataxia), terkadang ketiganya saling bercampur. Terjadinya CP adalah 0,6 % hingga 5,9 % setiap 1000 kelahiran bayi (Hasket & Barrel, 1993:17). Lihat Gambar 5.1 di bawah ini. Download Artikel Lengkap : Klik Disini

Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved