REFERENSI PENDIDIKAN

Pengertian Hambatan Mendengar dan Berbicara

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/06/pengertian-hambatan-mendengar-dan.html

Hendaya mendengar merupakan hambatan yang cukup besar bagi perkembangan berbahasa seseorang secara normal, sehingga perkembangan sosial dan intelektual dipengaruhi oleh adanya kekurangan dalam kemampuan bahasa (Hallahan & Kauffman, 1986:238; 1991:264). Berdasarkan pandangan yang bersifat fisiologis dan edukatif maka hendaya mendengar terdiri atas tuli dan agak tuli/ sulit mendengar. Jadi seorang anak yang tidak mampu mendengar suara keras pada tingkat di atas intensitas maka yang bersangkutan disebut sebagai tuli, sedangkan mereka yang mengalami kesulitan mendengar pada tingkat intensitas tertentu disebut sebagai agak tuli/ sulit mendengar.

Kepekaan atau sensitivitas mendengar diukur dengan decible (dB) yaitu suatu unit ukuran berkaitan dengan tingkat kekerasan suara. Terhadap anak yang mempunyai kepekaan suara sekitar 90 dB atau lebih, berdasarkan atas pandangan fisiologis, disebut dengan tuli. Sedangkan mereka yang kepekaan suara di bawah 90 dB disebut dengan agak tuli/ sulit mendengar. 

Pandangan secara edukatif mengukur klasifikasi seorang yang mempunyai hendaya mendengar dengan pertanyaan: “sampai sejauhmana pengaruh kemampuan mendengar seorang anak berdampak terhadap kemampuan anak untuk berbicara dan pengembangan bahasanya?” Hal ini dilakukan karena adanya pendapat para ahli yang menyatakan bahwa terdapat hubungan erat antara ketiadaan kemampuan mendengar dengan perkembangan berbahasa seseorang. 

Oleh karenanya batasan mengenai hendaya mendengar atau hearing impairment dapat mengacu kepada the Conference of Executive of American School for the Deaf sebagai berikut. 
“Hearing impairment. A generic indicating a hearing disability that many range in severity from mild to profound; it includes the subsets of deaf and hard of hearing. A deaf person is one whose hearing disability precludes succesful processing of linguistic information through audition, with or without a hearing aid. A hard of-hearing person is one who, generally with the use of a hearing aid, has residual hearing sufficient to enable succesful processing of linguistic information through audition” (Hallahan & Kauffman, 1986:240; dan 1991:266).
Diartikan secara bebas bahwa, hendaya mendengar merupakan kelainan secara generik yang menunjukkan adanya ketidakmampuan mendengar dengan tingkat kepelikan berkisar antara ringan hingga sangat berat. Termasuk di dalamnya adalah tuli dan agak tuli. Seseorang dinyatakan tuli bila yang bersangkutan tidak mempunyai kemampuan untuk mendengar sehingga terjadi hambatan dalam proses penyampaian informasi secara linguistik melalui indera-dengar, dengan atau tanpa alat bantu-dengar. Seseorang yang dinyatakan dengan agak tuli adalah mereka, umumnya telah menggunakan alat-bantu dengar, yang  mampu dan berhasil melakukan proses menangkap informasi secara linguistik dengan sisi-sisa pendengarannya. 

Mereka yang termasuk kedalam hendaya mendengar terdiri atas dua kategori yaitu mereka yang tuli sejak dilahirkan disebut dengan congenitally deaf, dan mereka yang tuli setelah dilahirkan disebut dengan adventitiously deaf. Sedangkan klasifikasi berdasarkan atas ambang batas kemampuan mendengar akan terdiri atas: ringan (mild) (26-54 dB), sedang (moderate) (55-69 dB), berat (severe) (70-89 dB), dan sangat berat (profound) (90 dB ke atas). 

Beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh Ittyerah dan Sharman di tahun 1997, Wiegersma dan Van Der Velde di tahun 1983 telah menemukan suatu kenyataan bahwa anak-anak dengan hendaya mendengar (deaf children) mempunyai kesulitan pada keseimbangan dan koordinasi gerak-tubuh. Contohnya, pada anak usia 6–10 tahun dengan hendaya mendengar akan mempunyai kekurangan kompetensinya dalam hal sebagai berikut di bawah ini. Download Artikel Lengkap : Klik Disini
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved