REFERENSI PENDIDIKAN

Pengertian Hambatan Perkembangan Fungsional

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/06/pengertian-hambatan-perkembangan.html

Kelainan khusus terhadap fisik dan/ mental pada anak dengan kebutuhan khusus yang mempunyai hendaya perkembangan fungsional menghendaki layanan pendidikan khusus sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 2 tahun 1989 (dalam pasal 11: ayat 4 dan pasal 38) dan dipertegas kembali dalam Undang-Undang Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan nomor 20 tahun 2003 dalam pasal 32 (1). Dinyatakan bahwa; “Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa”

Pendidikan khusus yang dimaksud dalam Undang-Undang Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional (1989/ 2 dan 2003/ 20) mempertimbangkan bahwa setiap siswa berbeda-beda dalam tingkat pencapaian kemampuan belajarnya. Tingkat pencapaian kemampuan belajar itu menurut Cohen dan Manion (1994:318) terdiri atas:
  1. High achievers, yaitu peserta didik dengan tingkat pencapaian prestasi belajar mereka di atas re-rata kelompok, antara lain anak berbakat dan keberbakatan.
  2. Average achievers, yaitu peserta didik dengan tingkat pencapaian prestasi belajar mereka berada pada tingkat kecenderungan-umum dalam kelompok.
  3. Low achievers, yaitu peserta didik pada tingkat pencapaian prestasi belajar mereka di bawah re-rata kelompok, yaitu anak dengan kebutuhan khusus.
Layanan bagi siswa dengan high achievers lebih ditekankan pada perkembangan kemampuan intelektual karena mereka mempunyai gejala khusus dalam beberapa - aspek kemampuan: intelektual, kepemimpinan dan gaya berfikir kreatif (Marland, 1972; Milgram, 1983). Siswa low achievers, memerlukan layanan bantuan belajar yang lebih dan bersifat khusus. Olehkarenanya kemampuan mental dalam proses belajar mengajar mereka lebih banyak diarahkan kepada perilaku yang bersifat lahiriah (covert behavior) (virgil dan Ward, 1980; Conny, S., 1977:113). Termasuk kedalam kelompok ini adalah mereka yang mempunyai hendaya perkembangan fungsional (“tunagrahita”).

Bagan 4.1 tersebut di atas menunjukkan bahwa peserta didik Low achievers memerlukan pembelajaran secara individu (individualized education program). Hal ini disebabkan mereka mempunyai kerakteristik spesifik, antara lain: kurang cerdas, daya ingat yang rendah, tidak menguasai konsep-konsep, serta sulit mengikuti alur fikir logis. Perilaku mereka dikarakteristikkan sebagai seorang yang mudah merasa gelisah, dibuktikan jika melakukan kesalahan dalam suatu tugas kegiatan kesehariannya yang bersangkutan akan merasa gelisah.

Hasil penelitian penulis di tahun 1998 terhadap empat sekolah luar biasa untuk siswa dengan hendaya perkembangan (SLB-C) wilayah Kota dan Kabupaten Bandung, menunjukkan bahwa siswa dengan hendaya perkembangan secara signifikan mempunyai kesulitan dalam kemampuan fungsional. Tabel 4.1 di bawah ini menunjukkan re-rata kemampuan fungsional berkisar 41,7 % dan kesulitan utama terletak pada kemampuan interaksi sosial (29,4 %). Berdasarkan data tersebut, maka tingkat pencapaian prestasi belajar siswa belum mencapai tingkat prestasi belajar yang diharapkan sesuai dengan target kurikulum.

Berdasarkan informasi tersebut di atas, maka selama tahun 1999-2000 secara periodik, penulis bersama-sama dengan mahasiswa jurusan Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia mengadakan kegiatan pelatihan terhadap para guru SLB-C dengan fokus perencanaan program pembelajaran yang bersifat individual, dengan pelatihan cara menggunakan instrumen-asesmen. Instrumen yang diterapkan adalah Play Assessment Chart (PAC, dimaksudkan untuk mendapatkan informasi berkenaan dengan “keberadaan” kemampuan fungsional para siswa. Informasi yang diperoleh hasil asesmen tersebut dipakai sebagai rujukan-utama dalam pembuatan program pembelajaran individual. Penelitian lanjutan di tahun 2001 terhadap enam sekolah luar biasa (SLB-C), diperoleh peningkatan data kemampuan fungsional dengan re-ratanya menjadi 66,50 %. Begitu pula hasil penelitian berikutnya. . .Download Artikel Lengkap : Klik Disini


Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved