REFERENSI PENDIDIKAN

Pengertian, Karakteristik dan Permasalahan Anak Tunagrahita

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/06/pengertian-karakteristik-dan.html

1. Pengertian

Dalam dunia pendidikan ditemukan anak-anak yang memiliki kecerdasan secara signifikan berada di bawah rata-rata pada umumnya dan disertai dengan hambatan dalam tingkah laku penyesuaian diri dan termanifestasi selama periode perkembangan. Di Indonesia anak-anak tersebut dikenal dengan istilah  Tunagrahita (PP No72/91) dan isitlah-istilah lainnya adalah: mentally retarded, mental retardation, intellectually disabled, mentally handicapped.

Demikan pula dengan definisi mengenai tunagrahita ada bermamam-macam, dan salah satu definisi yang dikenal adalah: definisi dari AAMD 1983 (Moh Amin, 1995:16) : Mental retardation reters to significantly subaverage general inrtellectual functioning existing concurently with deficits in adaptive behavior and manifested during the developmental period 

Definisi tersebut menandakan bahwa dalam memandang ketunagrahitaan tidak hanya berdasarkan satu aspak misalnya hanya segi kecerdasan saja yang rendah tetapi harus melihat hal-hal lain seperti adanya ketidak mampuan dalam tingkah laku penyesuaian dan masa terjadinya. Ketiga hal itu harus dimiliki oleh seorang anak barulah ia dikatakan tunagrahita.


2. Karakteristik dan Permasalahan

Secara umum anak tunagrahita memperlihatkan ciri-ciri seperti: a} dalam segi kecerdasan: kapasitas belajarnya terbatas terutama pada hal-hal abstrak, mereka lebih banyak belajar bukan dengan pengertian; b) sosial: dalam pergaulan mereka tidak dapat bergaul atau bermain dengan teman sebayanya, mengalami kesulitan dalam merawat diri, mengurus diri, menolong diri, berkomunikasi, dan beradaptasi dengan lingkungannya; c) fungsi mental lain: sulit memusatkan perhatian, mudah lupa, menghindari diri dari perbuatan berpikir; d) dorongan dan emosi: mereka jarang memiliki perasaan bangga, tanggung jawab, penghayatan, bagi yang berat hampir-hampir tidak mampu untuk menghindari bahaya, dan mempertahankan diri; dan e) organisme; bagi tunagrahita ringan hampir tidak terlihat perbedaannya dengan anak normal, namun keberfungsian fisik kurang dari anak normal. 

Berdasarkan keterbatasan di atas maka muncullah permasalahan bagi anak tunagrahita, diantaranya:
  1. Kesulitan dalam kehidupan sehari-hari serperti dalam melakukan kegiatan bina diri. Oleh karena itu mereka perlu mendapat pembelajaran atau latihan yang rinci dan rutin mengenai kegiatan Bina Diri.
  2. Kesulitan dalam belajar: kesulitan ini terutama dalam bidang pengajaran akademik misalnya Matematika, IPA, Bahasa, sedangkan bidang pengajaran non akademik mereka tidak banyak mengalami kesulitan. Oleh karena itu mereka membutuhkan model bahan ajar dan model program serta pendekatan yang bervariasi;
  3. Masalah penyesuaian diri: kesulitan dalam hubungannya dengan kelompok maupun dengan individu di sekitarnya, mereka juga cenderung dijauhi oleh lingkungannya dan tidak diakui secara penuh sebagai individu. Hal ini berakibat pada pembentukan keperibadiannya. Karena itu mereka membutuhkan latihan pengembangan kemampuan adaptasi dengan lingkungan baik di keluarga, sekolah dan masyarakat.
  4. Masalah penyaluran ke tempat kerja: anak tunagrahita masih banyak menggantungkan diri kepada orang lain apalagi untuk bekerja, setelah tamat  sekolah mereka banyak menggantungkan diri pada keluarga, atau berdiam diri. Lebih-lebih bila di sekolah mereka tidak mendapatkan latihan keterampilan yang memadai. Oleh karena itu pembelajaran bidang non akademik dan upaya penyaluran ke tempat kerja sangatlah dibutuhkan agar anak tunagrtahita dapat bekerja sesuai dengan keterampilannya; dan
  5. Masalah gangguan kepribadian dan emosi: mereka dapat berdiam diri berjam-jam, mudah marah dan mudah tersinggung, mengganggu orang lain dan ada juga yang merusak. Oleh karena itu mereka perlu diberikan kegiatan yang bermanfaat dan mendapatkan keberhasilan agar muncul rasa percaya diri
Refrensi Rujukan :
  1. Benson, Nigel C & Simon Grove (Alihbahasa: Medina Chodijah). (2000). Mengenal Psikologi for Beginners. Bandung: 
  2. Mizan Chaplin, C.P, (Terjemah: Kartini Kartono). (1995).Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada 
  3. Gordon, Dale. (1992). One Teacher’s Classroom, Strategies for Successful Teaching and Learning. Melbouarne: Eleanor Curtain Publishing M.Ali & M. 
  4. Asroni.(2004). Psikologi Remaja; Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara 
  5. Moh. Amin. (1995). Ortopedagogik Tunagrahita. Jakarta: P2TG Dirjen Dikti Depdiknas Peraturan Pemerintah RI Nomor 72 Tahun 1991. Tentang Pendidikan Luar Biasa. Jakarta: Depdikbud
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved