Pengertian Ketidakmampuan Penglihatan

Istilah umum yang dipakai dalam dunia pendidikan dewasa ini terhadap anak dengan hendaya penglihatan (vision impairment) adalah anak yang menyandang buta total dan anak yang mempunyai hambatan penglihatan sebagian. Ini menandakan bahwa anak dengan hendaya penglihatan adalah mereka yang mempunyai kelebihan kemampuan di luar daya penglihatannya, mengacu kepada kemampuan inteligensi yang cukup baik, daya ingat yang kuat, di samping kemampuan taktil melalui ujung jari-jemarinya yang luar biasa sebagai ganti indera penglihatannya yang kurang atau tidak berfungsi guna mengembangkan kemampuan persepsi dirinya terhadap pengintegrasian konsep-konsep (develop integrated concepts).

Inteligensi anak dengan hendaya penglihatan secara umum tidak mengalami hambatan yang berarti. Samuel P. Hayes (1950 dalam Hallahan 1987:294) menyatakan bahwa: „kemampuan inteligensi anak dengan hendaya penglihatan tidak secara otomatis menjadikan diri mereka mempunyai inteligensi yang rendah‟. Daya ingat yang kuat pada anak-anak dengan hendaya penglihatan disebabkan mereka mempunyai kemampuan konseptual setelah mereka mendapatkan latihan secara ekstensif untuk melakukan tugas-tugas tertentu dalam memahami teori-teori matematika, serta latihan-latihan mengklasifikasikan benda-benda untuk mampu mengetahui hubungan secara fisik dalam kegiatan pembelajaran yang bersifat vokasional (Hatwell, 1966; Stephens & Grube, 1982 dalam Hallahan 1987:295). 

Kemampuan taktil yang tinggi pada anak-anak dengan hendaya penglihatan disebabkan oleh adanya dua kemampuan persepsi taktual: synthetic touch dan analytic touch. Yang dimaksud dengan kemampuan synthetic touch adalah kemampuan diri mereka untuk melakukan ekplorasi melalui indera peraba terhadap benda-benda yang bentuknya cukup kecil tetapi masih dapat diraba oleh satu atau ke dua belah tangannya. Sedangkan analytic touch meliputi kemampuan sentuhan dengan indera peraba terhadap beberapa bagian-bagian tertentu suatu objek, sehingga anak yang bersangkutan secara “mental” dapat menghubung-hubungkan bagian-bagian yang terpisah dari suatu objek/ benda menjadi suatu konsep utuh tentang objek/ benda tersebut. Hal ini dimungkinkan terjadi disebabkan anak-anak dengan hendaya penglihatan mempunyai kemampuan dalam mengembangkan kemampuan persepsi dirinya terhadap pengintegrasian suatu konsep tentang objek/ benda. Misalnya, seorang anak dengan hendaya penglihatan dapat dengan mudah menemukan suatu benda yang diinginkan yang tersimpan dalam suatu tas, padahal benda tersebut telah bercampur dengan benda-benda lainnya. Ia dapat menemukan benda yang diinginkan dalam tasnya hanya dengan cara menyentuh dan memegang untuk waktu tertentu terhadap benda tersebut (Hallahan 1987: 296; Hallahan 1991:309).

Lebih dari 65 tahun yang lalu, tepatnya semenjak tahun 1940-an pendidikan untuk mereka yang mempunyai hendaya penglihatan banyak mengalami perubahan secara drastis. Semula mereka ditempatkan dalam rumah-rumah kediaman tertentu (residential school) hingga ke sekolah yang lebih terintegrasi dengan anak-anak “awas”. Dewasa ini penempatan pendidikan di sekolah berubah dari bentuk yang mainstreaming ke arah inclusion (Spungin, S.J., dalam Holbrook, M.C. & Koening, A.J. , 2003:IX ). 

Para guru yang menangani anak dengan hendaya penglihatan memerlukan kemampuan untuk mengambil keputusan berkaitan dengan strategi pembelajaran yang dianggap paling cocok bagi mereka. Oleh karena itu sangat diperlukan sekali pemahaman yang jelas berkaitan dengan isu-isu yang kompleks berkaitan dengan pembuatan program pembelajarannya. Pendekatan baru untuk mengajar anak dengan hendaya penglihatan adalah melalui pemberian latihan-latihan yang mengarah pada kemampuan menggunakan tongkat putih (white cane) dikenal dengan sebutan Hoover cane agar dapat melakukan bepergian secara aman, mandiri dan efektif. Kegiatan latihan ini dikenal dengan latihan mobilitas (mobility training). Tahun 1950-an pendekatan orientasi mobilitas banyak diterapkan bagi pembelajaran orang dewasa dengan hambatan penglihatan. Baru kemudian di tahun 1974 hampir semua ahli khusus tentang mobility training mulai memberikan layanan terhadap semua anak usia sekolah. 

Orientasi (orientation) diartikan dengan kemampuan mengetahui posisi diri berkaitan dengan objek-objek lain yang berada dalam suatu ruang tertentu, sedangkan mobilitas (mobility) diartikan kemampuan untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dari objek atau lingkungan tertentu secara aman, mandiri dan efektif (Ashman & Elkins, 1994:371) Download Artikel Lengkap : Klik Disini