REFERENSI PENDIDIKAN

Profil Kebutuhan Mahasiswa Tunanetra

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/06/profil-kebutuhan-mahasiswa-tunanetra.html

a. Pendahuluan

Setiap makhluk hidup, termasuk manusia, mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi, baik kebutuhan fisik, psikis, maupun sosial.

Kebutuhan membuat seseorang aktif dan terus aktif sampai situasi seseorang dan lingkungan diubah untuk meredakan kebutuhan tersebut. Beberapa kebutuhan disertai dengan emosi-emosi atau perasaan-perasaan tertentu dan seringkali disertai dengan perilaku/tindakan instrumental tertentu yang efektif untuk memenuhi kebutuhan yang dirasakan.


Seseorang yang mempunyai kecacatan biasanya disebut dengan kondisi luar biasa. Pada umumnya, yang termasuk dalam kondisi luar biasa adalah seseorang atau individu yang mengalami cacat baik jasmani maupun rohani, yang berupa kelainan fisik, mental, ataupun sosial, sehingga mengalami hambatan dalam mencapai tujuan-tujuan atau kebutuhan dalam hidupnya.

Seorang tunanetra, dalam kondisinya yang khusus atau luar biasa dengan berbagai kesulitannya, sering menghadapi berbagai masalah karena hambatan dalam fungsi penglihatannya.

Menurut Sukini Pradopo (1976) terdapat beberapa gambaran sifat anak tunanetra diantaranya ialah ragu-ragu, rendah diri, dan curiga pada orang lain. Sedangkan Sommer (dalam Somantri, 2005) mengatakan bahwa anak tunanetra cenderung memiliki sifat-sifat takut yang berlebihan, menghindari kontak sosial, mempertahankan diri dan menyalahkan orang lain, serta tidak mengakui kecacatannya.

Hasil penelitian El-Gilany dan kawan-kawan (2002) terhadap 113 orang dengan gangguan penglihatan di Mesir menunjukkan bahwa meskipun 90,3% sampel mempersepsikan masyarakat sebagai suportif dan memuaskan, namun mayoritas dari sampel memandang diri mereka sebagai tidak mampu/disable (71,7%), meragukan kemampuan diri sendiri (78,8%), dan tidak puas dengan kehidupan (88,5%).

Sedangkan penelitian Rosa (1993) menunjukkan bahwa usia terjadinya kebutaan atau gangguan penglihatan memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan afektif individu. Berdasarkan pengamatannya, seseorang yang buta sejak lahir tetap merasa bahagia dengan ketunanetraannya karena mereka tidak merasa kehilangan apapun seperti halnya mereka pun tidak punya harapan tentang apa yang bisa diperoleh dengan melihat. Seseorang yang buta sejak lahir, hampir secara otomatis menerima keadaan mereka. Sebaliknya dengan orang yang mengalami kebutaan setelah pernah mampu melihat.

Berdasarkan uraian di atas, dibuatlah rumusan masalah : Bagaimana profil kebutuhan psikologis mahasiswa tunanetra di Fakultas Ilmu Pendidikan UPI. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai profil kebutuhan psikologis mahasiswa tunanetra yang belajar di lingkungan Fakultas Ilmu Pendidikan UPI Bandung. Download Artikel Lengkap : Klik Disini

Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved